Perjuangan Inayah Tiap Malam Lewati Kuburan Demi Hafal Al Quran




Inayah, gadis berusia 16 tahun asal Palembang, rela mengunjungi kampung-kampung yang jaraknya cukup jauh dengan tempat tinggalnya. Hal itu dilakukannya demi menghafal Al Quran.

"Akhirnya Inayah bawa motor sendiri. Ngajinya habis maghrib. Karena jauh saya berangkat pukul 16.30 WIB. Pulang habis Isya sampai rumah pukul 23.00 WIB," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/4/2018).

Ia mengaku tak jarang mendapatkan teguran guru ngaji karena terlambat. Ayahnya juga sempat meminta untuk berhenti mengaji karena jarak yang jauh membuatnya tak sanggup mengantar dan menjemput. Inayah akhirnya mengendarai motor sendiri.

"Takut banget sebetulnya. Kalau malam melewati kuburan China. Tapi Inayah benar-benar ingin hafal Quran untuk mengubah dan menaikkan derajat keluarga," ujarnya.

Ia bercerita alasan ingin menghafal Al Quran karena menilai keluarganya yang jauh dari agama. Ayahnya tak pernah salat dan puasa, sementara sejak lahir hingga usia 6 tahun ia tak pernah bertemu ibunya. Sang ibu diketahui menjadi TKW di Kuwait.

"Inayah baru kenal ibu pas umur 6 tahun. Ibu pulang dari Kuwait. Waktu itu sama sekali enggak kenal itu siapa terus dikasih tahu sama tante ternyata itu ibu Inayah," tuturnya.

Namun semenjak menghafal Al Quran, ia menuturkan keadaan keluarganya menjadi lebih baik. Sang ayah yang tak pernah puasa kini telah mulai sadar meski masih tahap belajar.

"Sejak Inayah kenal Al Quran, semuanya berubah. Alhamdulillah, ayah juga sekarang sudah puasa walaupun puasanya cuma full pas hari pertama dan terakhir Ramadan. Ayah udah ngerasa malu karena adik-adik puasanya semua full," imbuhnya.

Kini, Inayah adalah salah satu dari 11 santriwati Pesantren Takhassus Daarul Quran Bangun Reksa, Ciledug, Tangerang. Hafalannya sudah 8 juz. Ia mengaku tak akan pulang ke Palembang jika belum hafal 30 juz. Inayah punya cita-cita sekolah di Mesir dan membangun pesantren di sejumlah negara.

Pesantren Takhassus Daarul Quran adalah lembaga yang mencetak generasi muda untuk menghafal Quran, sekaligus pengkaderan calon-calon pemimpin berlandaskan Al Quran.

Inayah juga memutuskan untuk memakai bercadar. Ia mengaku ingin hijrah setelah sempat berpenampilan tomboy.

"Saya dulu tomboy pakai celana Levi's, suka nggak bisa menahan suara. Jadi biar saya malu sama cadar. Ibu juga sekarang sudah berjilbab sejak Inayah menutup aurat," pungkasnya.

(Sumber: https://news.detik.com)

Kisah Para Penghafal Al-Qur’an Selamat dari Tsunami


Santri Nurul Fikri Serang sedang menyetorkan hafal Al-Qur'an secara bergantian pada Qur'an Camp di Villa Umbul Tanjung Resort, Serang, Banten, sebelum kejadian tsunami pada Sabtu (22/12/2018) malam.


"Ketika kita menjaga kalam-Nya ya, menjaga ayat-ayat Allah, maka Allah akan menjaga kita, baik itu di dunia maupun di akhirat."

ACHYAR baru saja merebahkan dirinya untuk tidur, tiba-tiba dentuman keras terdengar seakan begitu dekat. “Boooooooooommm!!!”. Ia bangkit, tak lama kemudian keluar kamar.

Di luar, ia mendapati anak-anak didiknya tengah dilanda kepanikan. Rupanya mereka menyaksikan gelombang besar dari laut sedang mengarah ke Villa Umbul Tanjung Resort di Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten.

Malam itu, Sabtu (22/12/2018) tragedi tsunami melanda Umbul Tanjung dan desa-desa di sekitarnya, bahkan sampai Kabupaten Pandeglang serta tiga kabupaten di Pulau Sumatera; Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran.

Tsunami itu dipicu erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, yang materialnya longsor ke bawah laut. Data sementara BNPB hingga Rabu (26/12/2018), bencana menelan korban 430 orang tewas, 1.495 luka-luka, 159 hilang, dan beratus-ratus bangunan rusak termasuk villa yang berjamur di pesisir Banten.

Tapi ajaib! Villa Umbul Tanjung Resort tak disentuh gelombang tsunami. Mengapa demikian? Siapa penghuni villa itu?

Mereka adalah para santri dan ustadz-ustadzah dari pesantren Nurul Fikri Boarding School Serang. Sejak tanggal 18 November lalu, mereka mengadakan kegiatan tahunan, Qur’an Camp di villa itu. Fokus utamanya menghafal Al-Qur’an.

Rutinitas harian mereka di villa diawali dengan shalat tahajud pada pagi dinihari. Usai shalat subuh berjamaah, kegiatan menghafal Al-Qur’an dilakukan sampai pukul 07.30 WIB. Dilanjutkan apel lalu istirahat. Pada pukul 10.00 WIB, mereka belajar bahasa Arab, Hadits, fiqih, dan sebagainya. Dilanjutkan istirahat. Usai shalat zuhur dan makan siang, para santri belajar lagi, kemudian menghafal Al-Qur’an. Usai ashar berolahraga. Bakda maghrib kembali menghafalkan kitab suci. Selepas isya, dilakukan evaluasi.

“Tiap hari begitu,” ujar Achyar Muhammad Yunus (28 tahun), nama lengkap wali kelas yang membimbing para santri tersebut kepada hidayatullah.com saat diwawancarai, Kamis (27/12/2018).

Detik-detik Kejadian

“Boooomm!”

Sabtu itu, rutinitas bersama Al-Qur’an berlangsung sebagaimana biasanya. Para santri dan santriwati, berjumlah total 55 orang, menyetorkan hafalannya diiringi dentuman dan getaran dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang cukup terasa.

Sekitar pukul 21.30 WIB setelah para santri selesai beraktivitas, tiba-tiba mereka mendengar suara gemuruh yang sangat besar. Lalu santri-santri berhamburan, berlari dari arah villa belakang, sebab mereka melihat ombak besar sudah sampai ke dekat tembok pembatas resort. Salah seorang pembimbing bahkan sempat lari melihat ancaman bencana di depan mata.

“Ombak gede banget,” tutur Jasir, salah seorang santri seperti ditirukan Achyar.

Achyar sempat merasa tsunami sudah menghantam villanya. Ia pun bergegas ke kamar, bermaksud mengamankan barang-barang penting seperti ijazah, paspor, laptop, dan lain sebagainya. Sampai di kamar ternyata keadaan baik-baik aja, seperti tidak terjadi apa-apa. Kepanikan itu hilang, berganti perasaan tenang mengetahui kondisi yang aman.

Usai itu, datang lagi ombak kedua yang lebih besar. “(Tapi) ombaknya terus mengecil gitu begitu dekat villa,” tutur Achyar yang pada 26 Desember 2004 silam juga selamat dari tsunami yang menghantam kampungnya di Aceh setelah sebelumnya ia memilih pindah tinggal ke pesantren jauh dari kampungnya.

Setelah gelombang tsunami Selat Sunda berlalu, suasana agak santai di villa. Para santri dan ustadz-ustadzah berkumpul di mushalla villa, mereka terus berdzikir dan tetap bertilawah, sambil berkoordinasi. Tapi sebagian masih khawatir adanya tsunami susulan. Sejumlah santri pun menghubungi orangtuanya lewat telepon. Sebagian lainnya terlihat sangat tenang.

Sempat ada orangtua santri –yang menginap di villa itu– sebelum kejadian berkeinginan untuk pergi ke laut. “Tadinya dia lima menit lagi mau mancing,” tutur Achyar, tapi bencana keburu datang, orangtua santri itu nyaris jadi korban.

“Orangtua ini nelpon ke BMKG Serang, kata BMKG (kejadian) ini enggak potensi tsunami, hanya air pasang karena bulan purnama,” tuturnya. Namun, informasi di media sosial mereka dapatkan bahwa warga sekitar telah mengungsi.

Akhirnya, setelah berkoordinasi, para pembimbing pun sepakat untuk segera mengevakuasi para hafizh-hafizhah itu ke tempat aman.

Pengelola resort menyampaikan kesiapan mereka membantu evakuasi ke daerah yang lebih tinggi, menggunakan lima mobil yang ada, termasuk mobil tamu yang berniat menginap di villa.

Sebelum prosesi evakuasi, Achyar bersama satu rekannya keluar villa untuk mengecek keadaan dengan sepeda motor. Masya Allah, ternyata sekitar villa mereka itu sudah berantakan dihantam tsunami barusan.

Villa tersebut cukup dekat dari bibir pantai, diperkirakan 10 meter. “Itu deket banget,” akunya. Setelah tembok di bagian belakang villa, terdapat tanah yang cukup jadi lapangan futsal, lalu bibir pantai. Secara logika, melihat kerusakan di sekitar, seharusnya villa itu juga dihantam tsunami.

Villa Umbul Tanjung Resort terletak menyendiri, cukup jauh dari villa-vila lainnya. Kawasan sekitar villa itu tersapu tsunami, pemandangan yang kontras dengan kompleks “villa penghafal Al-Qur’an” yang selamat dari tsunami itu.

Di sebelah villa, bekas tsunami terlihat sampai ke jalanan yang juga jalanan menuju Villa Umbul Tanjung Resort. Ada saung yang terletak di depan luar kompleks villa sampai terlempar ke villa. “Di tempat lain air (tsunami) sampai ke jalan, di tempat kita malah enggak kena,” sebut Achyar.

Ia juga melihat pada sebuah jembatan 300-an meter dari villa, air laut masih pasang dengan arus kencang. Tampak perahu-perahu saling bertabrakan, retak-retak. Jalanan di sekitar situ dipenuhi batu-batu yang dibawa gelombang tsunami. Mobil sulit lewat.
  
“Begitu ane lihat seperti ini, kita buru-buru (untuk) evakuasi santri. Padahal kalau melihat keadaan villa tempat kita, rasanya malas aja mau evakuasi, karena enggak ada kerusakan apa-apa di villa kita,” ungkapnya.
Ada keanehan lain dirasakannya saat kejadian. “Ane (saya) merasa semacam ada ketenangan saat itu.” Misalnya, saat mengevakuasi para santri, prosesnya gampang, seperti tidak ada masalah. “Pokoknya kayak enggak ada bencana.”

Bahkan, menariknya, para santri kata dia bukannya trauma pasca kejadian, “mereka malah pengen setoran hafalan,” ujar Achyar yang mengaku di Kompleks Nurul Fikri Jl Palka, Kp Cihideung, Desa Bantar Waru, Kecamatan Cinangka, Serang, sudah sejak 2015 lalu.

Singkat kisah, rombongan Nuruf Fikri itu pun dievakuasi di rumah kades setempat yang posisinya lebih di atas, dengan dua kelompok bergantian. Kemudian mereka bergeser ke pesantren Nuruf Fikri di Jl Palka. “Jam 2.30 (dinihari) kita nyampe sini,” sebut Achyar.
  
“Dijaga Allah”

Pasca kejadian, Achyar mengumpulkan para santri. Ia menyampaikan hal penting, hikmah yang bisa dipetik dari selamatnya mereka dari tsunami.

“Selama ini saya sering menasihati kalian tentang… keberkahan Al-Qur’an, bagaimana Allah memelihara ahlul Qur’an, bahkan orang sudah meninggal -para penghafal Qur’an- kalau kita lihat banyak di sana mayat-mayatnya yang terjaga sudah 55 tahun ternyata masih utuh,” pesan pria yang pernah lama kuliah di Yaman ini kepada para santri.

Memang, selama ini para santri khususnya setiap apel pagi, selalu diberi nasihat terkait ayat-ayat Al-Qur’an, keutamaan, keberkahan, dan keajaibannya. Mungkin katanya para santri tersebut tidak menyaksikan langsung keajaiban-keajaiban itu selama ini.

“Oleh karena itu, ane kasih tahu, (dengan kejadian) ini mungkin salah satu keajaiban yang Allah perlihatkan kepada kita bahwa ketika kita menjaga kalam-Nya ya, menjaga ayat-ayat Allah, maka Allah akan menjaga kita, baik itu di dunia maupun di akhirat.”

Dengan kejadian selamatnya mereka dari tsunami, “Kali ini Allah langsung nunjukin keajaibannya,” ungkapnya. Menjaga kalam-kalam Allah dengan menghafal Al-Qur’an, telah mengundang datangnya pertolongan tersebut.

Dari sisi lain, ia memperhatikan adanya perubahan para santri ke arah yang lebih baik setelah menghafalkan Al-Qur’an. Misalnya semakin sopan. Dengan Al-Qur’an pun mereka jadi dewasa. Bahkan, tuturnya, selama di villa tersebut, santri lebih mudah untuk dibangunkan qiyamul lail dibanding sebelumnya.

Para santri yang selamat itu saat ini duduk di kelas X. Selama 1 semester ini mereka difokuskan program menghafal Al-Qur’an. Hafalannya bervariasi. Ada dua santriwati yang sudah selesai daurah. Santri lainnya hafal 20 juz. “Ada yang 5 juz.” Targetnya semua santri selesai hafalannya.

Omong-omong, pasca kejadian, Qur’an Camp itu lanjut atau berhenti? “Program lanjut lagi,” jelasnya, dijadwalkan sampai 12 Januari 2019.*


(https://www.hidayatullah.com/)

Kisah Inspiratif Berjuang Menjaga Hafalan Al-Qur'an - Yufid Documentary




Sudah tahukan Anda bagaimana perjuangan para penghafal Al-Qur'an dalam menjaga hafalannya?

Simak video kisah inspiratif dari seorang santri Pondok Pesantren Ibnu Abbas Sragen Ahmad Zulkarnain Hambali dalam menjaga hafalan Al-Qurannya.

Yuk tonton video Kisah Inspiratif Berjuang Menjaga Hafalan Al-Qur'an

(Yufid.TV official website: http://yufid.tv)

Kisah Menggetarkan, Anak Persembahkan Hafalan Quran untuk Ayah



Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tersebut.

Ini kisah yang sangat menggugah hati. Kisah yang disebut nyata ini diceritakan oleh pengguna facebook dari ceramah seorang khatib salat Jumat di Graha CIMB Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.

Ceramah itu tentang seseorang anak berusia 10 tahun, bernama Umar, dan ayah yang merupakan pengusaha sukses di Jakarta. Kisah ini membuat banyak jamaah salat Jumat bersedu-sedan.

Oleh orangtuanya, Umar disekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta.Sang ayah berfikir bahwa sang anak harus mendapat pendidikan yang terbaik dan kelak harus sukses mengikuti jejaknya.

Suatu hari, istri pengusaha itu memberi tahu suaminya, bahwa sekolah Umar mengadakan Father’s Day. Dan meminta suaminya datang ke sekolah anaknya. Namun sang ayah menolak.

“Waduh saya sibuk ma, kamu saja yang datang,” kata sang suami. Sang ayah memang sangat sibuk dengan bisnisnya, sehingga menganggap acara seperti itu kurang penting.

Namun sang istri marah. Sebab sudah berbagai kesempatan dilewatkan suaminya. Sehingga kali ini dia memaksa agar sang suami mau datang ke sekolah Umar untuk acara Father’s Day itu.

Sang ayah pun mau datang. Meski dengan ogah-ogahan. Dia tak antusias. Saat ayah-ayah lain berebut kursi paling depan agar bisa melihat anak mereka dengan lebih dekat, ayah Umar malah duduk di belakang.

Satu persatu anak-anak di sekolah itu unjuk kebolehan di atas panggung, disaksikan ayah mereka. Mereka membacakan puisi, menyanyi, menari, dan sebagainya.

Kini, giliran Umar. Dia bertanya kepada sang guru untuk memanggilkan ustaz di sekolah itu.

“Miss, bolehkah saya panggil Pak Arief?” tanya Umar kepada gurunya. Pak Arief adalah guru ekstrakurikuler mengaji di sekolah itu.

Pak Arief pun dipanggil untuk naik ke atas panggung.

“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’),” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.

“Tentu saja boleh nak,” jawab Pak Arief.

“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah.”

Lalu Umar mulai melantunkan Surat An-Naba’ tanpa membaca mushafnya alias hafalan. Dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan Imam Besar Masjidil Haram, Syaikh Sudais.

Semua hadirin diam. Terpaku mendengarkan bacaan Umar yang mendayu-dayu, termasuk ayahnya yang duduk di belakang.

“Stop.. kamu telah selesai membaca ayat 1 sampai dengan 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9,” kata Pak Arief memotong bacaan Umar.

Umar lantas membaca ayat 9 yang diminta Pak Arief. Setelah ayat 9 dibaca, Pak Arief kembali memintanya berhenti dan membaca ayat ke-21 kemudian ayat ke-33.

“Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir),” kata Pak Arief. Umar pun membaca ayat ke-40 tersebut sampai selesai.

“Subhanallah, kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak,” demikian teriak Pak Arief sambil mengucurkan air matanya.

Para hadirin yang muslim pun tak kuasa menahan airmata.

Lalu pak Arief bertanya kepada Umar, “Kenapa kamu memilih menghafal Alquran dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain?”

Mendapat pertanyaan itu, Umar mengutip hadis Nabi Muhammad yang pernah disampaikan Arief kepadanya, bahwa barang siapa membaca Alquran akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Kepada orangtuanya akan dipakaikan jubah karena memerintahkan anaknya untuk mengaji.
“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akhirat kelak. Sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangnya,” tambah Umar.


Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tersebut. Di tengah suasana hening itulah, tiba-tiba terdengan teriakan “Allahu Akbar!” Seseorang lari dari belakang menuju ke panggung.

(dream.co.id)

Deretan Kisah Inspiratif Para Penghafal Alquran Cilik Indonesia



Kecil-kecil sudah menjadi penghafal Alquran. Jika mendengar kalimat tersebut, apa yang timbul di pikiran kita?

Sebagian dari kita secara otomatis akan berdecak kagum dan 'speechless' dengan kehebatan para bocah penghafal Alquran ini. Nah, berikut telah dirangkum dari berbagai sumber oleh HaiBunda, deretan kisah para penghafal Alquran cilik Indonesia yang bisa menginspirasi kita semua.

1. Ahmad Hadi Ismatudzakwan asal Jambi


Berasal dari Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, Ahmad Hadi Ismatudzakwan, atau yang biasa dipanggil Aza adalah salah satu peserta lomba tahfiz Alquran, Hafiz Indonesia. Aza merupakan anak dari pasangan Budi Rahmanto (35) dan Alriana safitri (34).

Bocah yang kini berusia 10 tahun, tercatat sebagai salah satu siswa di SDN 04 Kuala Tungkal. Dikenal cerdas dan merupakan pernah menjadi ketua kelas di sekolahnya.

"Aza sangat berbeda pertumbuhannya dengan yang lain. Ia lebih aktif dalam pelajaran maupun pergaulan," ujar Hj. Nurminah, Kepala Sekolah SDN 04.

Walaupun dinilai aktif dalam pergaulan, akan tetapi ketika sedang membaca Al-qur'an, Aza selalu tenang dan khusyu. Kemerduan suaranya dalam membaca Alquran mampu membuat siapa saja merinding dan meneteskan air mata. Syeikh Ali Jaber dari Madinah, salah satu Juri Hafiz Indonesia pun dibuat "merinding" ketika mendengar lantunan ayat suci Aza

"Aza sehari-hari bersekolah seperti biasa, namun apabila malam hari, ia mengikuti pesantren Maghrib sampai Isya. Saya juga tidak pernah berobat kerumah sakit ketika mengalami demam atau pusing ringan. Saya selalu meminta Aza untuk membacakan beberapa surat, dan saya merasa sembuh setelah mendengar lantunan suara Aza," tutur Budi Rahmanto, ayah Aza.

2. Masyita Putri Nasyira asal Makassar


Namanya Masyita Pustri Nasyira, usia 9 tahun. Gadis cilik menderita penyakit low vision ini telah membahagiakan dan membanggakan kedua orangtuanya Nasruddin, (39) dan Irawati (39). Kedua orang tuanya berhasil ia berangkatkan ibadah haji ke Tanah Suci pada tahun 2016. Ia berhasil mengangkat ekonomi keluarga dari menghafal Alquran.

"Kehadiran Masyita membawa pengaruh baik dalam kehidupan keluarga kami. Dia telah mengangkat derajat kami melalui Alquran. Karenanya, saya dan bapaknya bisa ke tanah suci. Jika berharap dari gaji bapak yang masih seorang honorer di salah satu instansi, mungkin kami tak bisa ke Tanah Suci," kata sang ibu, Irawati.

Selain memberangkatkan kedua orang tuanya ke tanah suci, si kecil Masyita juga membantu merenovasi rumahnya yang sangat sederhana. Irawati menceritakan awal mula putrinya bisa seperti sekarang ini. Beberapa waktu lalu ada seorang ibu pengunjung mal merekam Masyita yang membaca Alquran di mal. Kemudian mengunggahnya ke Facebook dan menjadi viral.

Memang, sejak Masyita menginjak usia 3 tahun, Irawati sering memperdengarkan bacaan Alquran ke Masyitah dari ponsel, radio kecil maupun televisi. Ternyata hal itu semua tersimpan dengan baik di memori Masyita sehingga mampu menghafalkan juz 29 dan juz 30.

Ibu dari semifinalis Hafiz Indonesia mengaku, agar hapalan Masyita tetap bertahan dan bertambah, Masyita harus menyetor hapalan ke dirinya atau ke bapaknya usai magrhib. Satu halaman setiap hari.

"Memang anak saya kurang normal tapi sepertinya dia yang paling percaya diri karena pada dasarnya Masyita itu anaknya selalu ceria," tutup Irawati.

3. Fajar Abdulrokhim Wahyudiono asal Bandung


Fajar, bocah penyandang disabilitas dan penghafal Alquran dari Bandung/Fajar, bocah penyandang disabilitas dan penghafal Alquran dari Bandung/ Foto: Istimewa

Fajar Abdulrokhim Wahyudiono asal Bandung ini telah menjadi Hafiz Alquran sejak berusia 4,5 tahun. Hebatnya lagi, Fajar ternyata adalah penderita cerebral palsy (lumpuh otak).

Fajar terlahir dalam kondisi prematur dengan berat 1,6 kg dan penyakitnya baru diketahui setelah usianya 1 tahun. Nggak mundur sampai situ, orang tua dari Fajar memberi terapi dengan memperdengarkan murattal Alquran selama 24 jam setiap harinya.

Atas kuasa Tuhan, di usia 4,5 tahun, ternyata Fajar telah menghafal Alquran berkat murattal yang diperdengarkan setiap hari. Kini Fajar yang sudah berusia 14 tahun, sedang menghafal hadits dan ia juga bisa berbahasa Arab, lho. Kisah Fajar ditulis dalam buku yang berjudul 'Fajar Sang Hafizh, Anak Lumpuh Otak Hafal Al-Qur'an'.

Terbitnya buku yang memuat kisah Fajar ini diharapkan mampu menjadi api semangat bagi setiap orang tua yang memiliki anak bernasib sama. Kehadiran buku ini juga sekaligus menjadi penyemangat bagi anak-anak normal seusianya, bahkan untuk semua kalangan.

Luar biasa! (aci)

https://www.haibunda.com

Pelayan yang Hafal Al-Quran





SUATU kali, Abdullah bin Umar RA dan para sahabatnya sedang bertamu pada orang saleh. Orang saleh ini mempunyai pelayan perempuan.

Pelayan ini melayani Abdullah dan para sahabatnya dengan menghidangkan sup yang sangat lezat. Saat sup ini dibawanya, tiba – tiba piring itu jatuh dan sup yang didalamnya tumpah ke tanah. Sehingga orang – orang terkejut melihatnya. Pelayan itu merasa bersalah dan meminta maaf pada seluruh tamunya. Lalu tuannya memakinya sambil mengancam akan memukulnya.

Pelayan yang shalehah ini hafal Al – Quran dan membacakan salah satu ayat, “Dan orang – orang yang menahan amarahnya…” (Ali Imran : 134).

Kemudian tuannya menimpali, “Kami telah menahan amarah kami.”

Pelayan itu melanjutkan bacaan ayatnya, “Dan memaafkan (kesalahan) orang.” (Ali – Imran : 134).

Tuannya mengatakan, “Kami telah memaafkan kesalahanmu.”

Pelayan itu membaca ayat lagi, “Allah menyukai orang – orang yang berbuat kebajikan.” (Ali – Imran 134).

Akhirnya tuannya pun menyahutnya, “Mahabenar Allah. Kami telah berbuat baik padamu. Sekarang kamu bebas (dari perbudakan) karena Allah SWT.” []

Sumber: 40 Kisah Pengantar Anak Tidur/Najwa Husein Abdul Aziz/Gema Insani/Depok/2006. - islampos

Kuingin Anak-anakku jadi Penghafal Quran





BAHAGIA rasanya memiliki putra-putri yang hafal alQuran, karenanya libatkanlah usia-usia keemasannya dengan al-Quran.

Tenang rasanya ketika jasad ini sudah terbujur kaku, namun jasad ini dikelilingi oleh anak-anak yang menjaga firman-Nya.

Ingin rasanya menjadi kanak-kanak kembali, karena ia saat terbaik untuk menghafal firmannya. Namun asa untuk menghafal firmannya tidak boleh putus, paling tidak akan kubayar penyesalan ini dengan menghasilkan generasi penjaga kalamNya.

“Hafalan anak kecil bagaikan mengukir diatas batu dan hafalan seorang anak dewasa bagaikan menulis diatas air (Hr Imam Dailami)

“Barang siapa yang menghafal al Quran sebelum baligh, maka ia termasuk orang yang diberi ilmu sejak kecil.” (Hr Imam Baihaqi dan Ibnu Majah)

“Barang siapa yang mempelajari al Quran diusia muda maka Allah akan menyatukan al Quran dengan daging dan darahnya.” (Hr Bukhori)

Semoga hadist hadist nabawiah ini menjadi penyemangat kita para orang tua untuk melahirkan generasi penghafal alQuran, karena itulah investasi tiada ternilai dunia dan akhirat. []