Sabar Dalam Mencari dan Menyampaikan Ilmu




Bismillah..

Setiap urusan besar tidak dapat diraih kecuali dengan sabar. Perkara yang paling besar yang dengannya seseorang mampu menanggung beban barat dalam meraih cita-cita yang tinggi adalah mensabarkan jiwa dalam meraihnya. Oleh karena itu, sabar dan sungguh-sungguh diperintahkan, baik untuk meraih keimanan, ataupun untuk menyempurnakan keimanan tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, dan sungguh-sungguhlah dalam bersabar.” (QS. Ali Imran: 200)

Dalam ayat lain Allah berfirman :

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya.” (QS. Al Kahfi: 28)

Yahya bin Abi Katsir dalam menafsirkan ayat ini berkata : “Ia adalah majlis-majlis fiqh.”

Maka dari itu tidak seorang pun dapat meraih ilmu melainkan dengan sabar, karena sabar adalah salah satu pondasi terkuat untuk meraih ilmu

Yahya bin Abi Katsir juga berkata :

“Ilmu tidak akan diraih dengan jasad yang kerap bersantai-santai.”

Dengan sabar, seseorang akan selamat dari buruknya kebodohan, dan dengannya pula kan ia dapatkan lezatnya ilmu.

Sabar dalam ilmu ada dua macam:

Pertama : sabar dalam mencari dan mempelajarinya.

Menghapal membutuhkan kesabaran. Memahami membutuhkan kesabaran. Menghadiri majelis-majelis ilmu membutuhkan kesabaran. Menjaga hak sang guru membutuhkan kesabaran.

Kedua : sabar dalam mengajarkan ilmu.

Duduk mengajarkan para murid membutuhkan kesabaran. Memahamkan mereka membutuhkan kesabaran. Menghadapi kesalahaan-kesalahan mereka membutuhkan kesabaran.

Diatas dua macam kesabaran ini, ilmu membutuhkan sabar dalam bersabar serta dalam keteguhan untuk menjalani keduanya.

“Setiap orang ingin sampai pada cita-citanya .. tapi sedikit diantara para lelaki yang teguh.”

_____

Referensi:

– Ta’dzim Al Ilmi,  karya Syaikh Shaleh bin Abdillah Al ‘Ushaimy hafidzahullah

****
Hamalatulquran.com

Menghafal Al-Quran 10 menit



Beberapa waktu yang lalu saya membaca tips Tahfizh atau menghafal al quran dalam 10 menit yang di tulis oleh ustad Syahid Abdul Qadir S.Sos. Tahfizh 10 menit, apa benar bisa? jawabnya tentu bisa asalkan ada kemauan, tekad yang kuat dan rajin. Tidak ada istilah mustahil karena sesungguhnya Allah telah memudahkan al quran untuk di ambil pelajaran.

Antum semua tentu tahu kalau waktu yang kita gunakan di dunia ini akan di hisab, Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; “Tidaklah berdiri tegak kedua kaki hamba Allah sehingga ia ditanya tentang 4 hal; umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan,dan ilmunya bagaimana ia mengamalkannya. ..”

Karenanya saya ketengahkan cara ini untuk antum-antunna, kepada mereka yangmenghabiskan waktunya dalam kelalaian dan hanya mengisi dengan menyanyikan lagu-lagu syahwat, menonton film serta berleha-leha tanpa membawa sedikit pun manfaat…

Lalu bagaimana cara yang di sajikan oleh ustad Ayahid Abdul Qodir ini, berikut ini   saya jelaskan ringkasan langkah-langkah menghafal 10 menit;

Menghafal Al-Quran 10 menit yang dimaksud adalah menggunakan waktu 10 menit setelah sholat fardu lima waktu.

Antum-antunna menghafal Al-Quran satu halaman setiap harinya. Satu halaman terdiri dari 15 baris menggunakan Al-Quran Pojok Rasam Utsmaniy. Dan 1 halaman dibagi 5 waktu sholat dalam sehari-semalam dengan lama waktunya masing-masing10 menit. Atau dengan kata lain antum-antunna memerlukan waktu 50 menit sahaja.

Ya hanya 50 menit… 1 jam kurang 10 menit. Jika dibandingkan dengan waktuantum-antunna sia-siakan sungguh sangat sedikit sekali. Antum-antunna hanyamenghafal 3 baris saja dalam waktu 10 menit setelah sholat fardhu. 3 baris x 5waktu = 15 baris atau sama dengan 1 halaman. Sedangkan Al-Quran pojok terdiridari 604 halaman. Berarti antum-antunna akan hafal Al-Quran dalam masa kira-kira 1 tahun 8 bulan 15 hari.

Bukankah 10 menit itu mudah dan ringan bagi antum-antunna untuk melakukannya?Terlebih ia akan mengangkat kedudukan antum-antunna di sisi Alllah SWT dan makhluk-makhluk-  Nya serta antum-antunna akan bersama para Malaikat yang baik dan mulia.

Selanjutnya cara tersebut kita perinci sebagai berikut;

1. 10 menit setelah sholat shubuh; menghafal 3 baris = kurang lebih 20 kalimat saja. Ini seperlima bagian pertama.
2. 10 menit setelah sholat zhuhur; menghafal 3 baris. Ini seperlima bagian kedua.
3. 10 menit setelah sholat ashar; menghafal 3 baris. Ini seperlima bagian ketiga.
4. 10 menit setelah sholat maghrib; menghafal 3 baris. Ini seperlima bagian keempat.
5. 10 menit setelah sholat isya; menghafal 3 baris. Ini seperlima bagian kelima.
6. Terakhir menutup hari dengan sholat witir 3 atau 5 rakaat dan didalamnya membaca hafalan 1 halaman yang telah didapat pada hari itu. Ini sekaligus dijadikan sarana muraja’ah harian yang efektif.

TEKNIK MURAJA’AH

HARI KE-1

1. Sholat sunah Qobliyah dan ba’diyah zhuhur; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah shubuh atau hafalan seperlima bagian pertama
2. Sholat sunah Qobliyah ashar; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah zhuhur atau hafalan seperlima bagian kedua
3. Sholat sunah ba’diyah maghrib; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah ashar atau hafalan seperlima bagian ketiga
4. Sholat sunah Qobliyah isya; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah maghrib atau hafalan seperlima bagian keempat
5. Sholat sunah ba’diyah isya; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah isya atau hafalan seperlima bagian kelima
6. Sholat Witir; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat pada hari ke-1 ini atau 1 halaman penuh.

HARI KE-2

1. Sholat sunah qobliyah shubuh; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah isya hari ke-1 atau hafalan seperlima bagian kelima
2. Sholat sunah dhuha 2 rakaat; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan 1 halaman yang telah didapat pada hari ke-1.
3. Sholat sunah qobliyah dan ba’diyah zhuhur; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah shubuh atau hafalan seperlima bagian pertama hari ke-2 ini.
4. Sholat sunah qobliyah ashar; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah zhuhur atau hafalan seperlima bagian kedua hari ke-2 ini.
5. Sholat sunah ba’diyah maghrib; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah ashar atau hafalan seperlima bagian ketiga hari ke-2 ini.
6. Sholat sunah qobliyah isya; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah maghrib atau hafalan seperlima bagian keempat hari ke-2 ini.
7. Sholat sunah ba’diyah isya; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat setelah isya atau hafalan seperlima bagian kelima hari ke-2 ini.
8. Sholat sunah witir; setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca hafalan yang didapat pada hari ke-2 ini atau hafalan 1 halaman hari ini.

HARI KE-3 HINGGA HARI KE-6

1. Dilakukan mengikuti ritme muraja’ah hari ke-1 dan ke-2 dan begitu seterusnya
2. Sholat sunah witir dengan hafalan 2 halaman yang sudah didapat pada hari sebelumnya dan hari yang sedang berlangsung dan begitulah seterusnya.

HARI KE-7

1. Hendaknya jatuh pada malam Ahad agar dibuat program ‘begadang qiyamullail’ seminggu sekali dengan mengulang hafalan yang sudah didapat selama seminggu.
2. Jika antum-antunna sudah berkeluarga, boleh juga dibuat program tasmi’ bersama suami/isteri dan anak-anak dalam seminggu sekali (memperdengarkan hafalan yang sudah didapat selama seminggu). Dan bagi yang belum berkeluarga, boleh juga mengundang teman-teman dan sekalian jamuan makan kalau mampu.


Mudah Bukan? Antum-antunna ada cara lain?….silahkan di-share.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Qs. Al-Qomar(54) : 17, 22, 32,40)

http://www.kabarislam.com

Tips Menghafalkan Al Qur'an Dengan Cepat Dan Kuat || Ustadz Adi Hidayat...




Profil, Biografi dan Prestasi Ustadz Adi Hidayat Lc yang luar biasa

Ustadz Adi Hidayat, Lahir diPandeglang, Banten, 11 September 1984.

Pada masa pendidikan Ustadz Adi sudah banyak meraih penghargaan baik di tingkat Pondok, Kabupaten Garut, bahkan Propinsi Jawa Barat, Terutama pada hal syarh al-Qur’an. Pada tingkat II Aliyah beliau pernah jadi utusan termuda pada program Daurah Tadribiyyah dari Univiversitas Islam Madinah diPonpes Taruna al-Qur’an Yogjakarta.

Ustadz Adi melanjutkan pendidikanya di Fakultas Dirasat Islamiyyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bekerjasama dengan Univ. al-Azhar Kairo. Tahun 2005, Ustadz Adi mendapatkan undangan untuk melanjutkan studi di Kuliyya Dakwah Islamiyyah Libya.

Di Libya, Adi Hidayat belajar berbagai disiplin ilmu yaitu al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Tarikh, Lughah, dan selainnya. Ustadz Adi mengambil program khusus Lughah Arabiyyah wa Adabuha.

Selain pada pendidikan formal, Ustadz Adi Hidayat juga bertalaqqi kepada masyayikh bersanad baik di Libya dan Negara-negara yang pernah beliau kunjungi. Ustadz Adi belajar al-Qur’an pada Syaikh Dukkali Muhammad al-‘Alim (muqri internasional), Syaikh Ali al-Liibiy (Imam Libya untuk Eropa), Syaikh Ali Ahmar Nigeria (riwayat warsy), Syaikh Ali Tanzania (riwayat ad-Duri). Ustadz Adi juga belajar ilmu tajwid pada Syaikh Usamah (Libya).

Guru Tafsir Ustadz Adi Hidayat  ialah syaikh Tanthawi Jauhari (Grand Syaikh al-Azhar) dan Dr. Bajiqni (Libya), untuk Ilmu Hadits Ustadz Adi belajar pada Dr. Shiddiq Basyr Nashr (Libya). Untuk Ilmu Fiqh dan ushul Fiqh, Ustadz Adi berguru kepada Syaikh ar-Rabithi (mufti Libya) dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili (Ulama Syiria). Ustadz Adi juga mendalami ilmu lughah dari syaikh Abdul Lathif as-Syuwairif (Pakar bahasa Dunia, anggota majma’ al-lughah), Dr. Muhammad Djibran (Pakar Bahasa dan Sastra), Dr. Abdullâh Ustha (Pakar Nahwu dan Sharaf), Dr. Budairi al-Azhari (Pakar ilmu Arudh), juga masyayikh lainnya. Ilmu tarikh Ustadz Adi Belajar dari Ust. Ammar al-Liibiy (Sejarawan Libya).

Ahmad & Kamil | Hafidz Cilik Indonesia | Penutupan Musabaqah Hifzil Qura...




Lantuan ayat-ayat suci Al-Quran yang dibawakan dua hafiz cilik Indonesia, Muhammad Ghozali Akbar (10 tahun) dan Kamil Ramadhan (11 tahun) menggema di puncak acara MTQ Internasional Moskow ke-19 (19th Moscow International Quran Reciting Competition)kategori hafiz atau hafalan di Moskow, Minggu (21/10) waktu setempat.

Kehadiran kedua hafiz cilik Indonesia ini sebagai tamu undangan khusus dari Dewan Mufti Rusia

Tahsin Quran, Ilmu Untuk Menyempurnakan Belajar Al Quran



Membaca Al Quran merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam. Oleh karena itu membaca dan juga mempelajari Al Quran hukumnya wajib bagi setiap muslim. Tidak hanya cukup dengan membacanya saja, kitab suci Al Quran tentu harus dipelajari. Setiap muslim diwajibkan untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kitab suci Al Quran. Di dalam mempelajari Al Quran pun tidak bisa sembarangan. Ada ilmu-ilmu yang harus dipelajari dalam proses belajar Al Quran, di antaranya yaitu tahsin  Quran. 

Tahsin Quran di dalam Islam mempunyai makna bahwa di dalam membaca Kitab Suci Al Quran haruslah benar dan tepat demi terjaganya keaslian praktik dakwah sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tahsin sendiri di dalam Bahasa Arab mempunyai arti memperbaiki, memperkaya atau menguatkan. Tahsin Quran juga dapat diartikan sebagai penyempurnaan hal-hal yang berkaitan dengan kesempurnaan lafaz pengucapan huruf-huruf Al Quran dan penyempurnaan dalam pengucapan hukum hubungan di antara huruf dengan huruf yang lain seperti ikhfa, idzhar, idgham, dan yang lainnya.

1. Hukum belajar Tahsin

Hukum dalam belajar ilmu Tahsin (Ilmu tajwid) sebagai disiplin ilmu dalam mempelajari Al Quran adalah fardu Kifayah. Sedangkan hukum membaca kitab Suci Al Quran dengan memakai aturan ilmu tajwid adalah Fardu ain. Dengan begitu, membaca Al quran dengan menggunakan tajwid menjadi wajib hukumnya. Siapa pun yang di dalam membaca Al Quran tidak mempergunakan  hukum tajwid maka hukumnya menjadi dosa, karena Allah SWT telah menurunkan Kitab Suci Al Quran beserta tajwidnya. Oleh karena itu di dalam proses membaca Al Quran yang baik dan benar, maka juga diwajibkan untuk mempelajari Ilmu-Ilmu tajwid demi kesempurnaan dalam membaca Al Quran.

2. Tujuan dari Tahsin Tilawah

Tujuan utama dari Tahsin Quran sendiri yaitu menjaga lidah dari salah-salah dalam membaca Al Quran. Kesalahan dalam membaca Al Quran sendiri ada 2 macamnya, yaitu Al Lahnul Jaliy dan Al Lahnul Kofiy. Al Lahnul Jaliy adalah kesalahan yang begitu terlihat jelas di kalangan ataupun kalangan ahli tajwid. Kesalahan tersebut antara lain perubahan bunyi, perubahan harakat, memanjangkan huruf yang seharusnya pendek atau pun sebaliknya dll. Kesalahan kedua, Al Lahnul Kofiy yaitu kesalahan kecil yang tidak diketahui, kecuali oleh orang yang tidak mempunyai keahlian khusus dalam penyempurnaan pembacaan Al Quran. Kesalahan-kesalahan tersebut antara lain, tidak digunakannya hukum-hukum bacaan, tidak diterapkannya kaidah ghunnah di dalam huruf-huruf yang semestinya menggunakan ghunnah

3. Manfaat Tahsin Quran

Manfaat dari tahsin Quran sendiri antara lain, merupakan cermin keimanan seorang umat muslim terhadap kitab suci Al Quran, Mencapai kualitas yang tinggi di dalam membaca dan juga mempelajari Al Quran dan menghindari kesalahan di dalam membaca Al Quran.

Sumber: https://islamdownload.net/125617-tahsin-quran-ilmu-untuk-menyempurnakan-belajar-al-quran.html

Pahala Orang yang Menghafal al-Quran



Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Menghafal al-Quran termasuk ibadah jika dilakukan ikhlas karena Allah dan bukan untuk mengharapkan pujian di dunia. Bahkan salah satu ciri orang yang berilmu menurut standar al-Quran, adalah mereka yang memiliki hafalan al-Quran. Allah berfirman,

Bahkan, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu..(QS. al-Ankabut: 49).

Allah memberikan banyak keutamaan bagi para penghafal al-Quran, di dunia dan ahirat.

Berikut diantaranya,

Pertama, dia didahulukan untuk menjadi imam ketika shalat jamaah

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Yang paling berhak jadi imam adalah yang paling banyak hafalan al-Quran-nya. Jika dalam hafalan quran mereka sama, maka didahulukan yang paling paham dengan sunnah… dan seseorang tidak boleh menjadi imam di wilayah orang lain. (HR. Ahmad 17526, Muslim 1564, dan yang lainnya)

Dari Ibnu Umar, beliau bercerita,

Ketika para muhajirin pertama tiba di Quba, sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menjadi imam mereka shalat adalah Salim mantan budak Abu Hudzaifah. Dan beliau adalah orang paling banyak hafalan qurannya. (HR. Bukhari 660)

Kedua,  ketika meninggal, dia didahulukan

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bercerita,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan dua jenazah uhud dalam satu kain kafan. Setiap hendak memakamkan, beliau tanya, “Siapa yang paling banyak hafalan qurannya?”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memposisikan yang paling banyak hafalannya di posisi paling dekat dengan lahat. Lalu beliau bersabda,

Saya akan menjadi saksi bagi mereka kelak di hari kiamat. (HR. Bukhari 1343 & Turmudzi 1053)

Ketiga, diutamakan untuk menjadi pemimpin jika dia mampu memagangnya

Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, beliau menunjuk Nafi’ bin Abdul Harits untuk menjadi gubernur di Mekah.

Suatu ketika, Umar bertemu Nafi’ di daerah Asfan.

“Siapa yang menggantikanmu di Mekah?” tanya Umar.

“Ibnu Abza.” Jawab Nafi’.

“Siapa Ibnu Abza?” tanya Umar.

“Salah satu mantan budak di Mekah.” Jawab Nafi’.

“Mantan budak kamu jadikan sebagai pemimpin?” tanya Umar.

“Dia hafal al-Quran, dan paham tentang ilmu faraid.” Jawab Nafi’.

Kemudian Umar mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Sesungguhnya Allah mengangkat sebagian kaum berkat kitab ini (al-Quran), dan Allah menghinakan kaum yang lain, juga karena al-Quran.” (HR. Ahmad 237 & Muslim 1934)

Keempat, kedudukan hafidz al-Quran di surga, sesuai banyaknya ayat yang dia hafal

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ditawarkan kepada penghafal al-Quran, “Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Quran ketika di dunia. Karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.” (HR. Abu Daud 1466, Turmudzi 3162 dan dishahihkan al-Albani)

Kelima, ditemani Malaikat

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Orang yang membaca dan menghafal al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia. Sementara orang yang membaca al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu menjadi beban baginya, maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari 4937)

Keenam, di akhirat, akan diberi mahkota dan pakaian kemuliaan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca. (HR. Turmudzi 3164 dan beliau menilai Hasan shahih).

Ketujuh, al-Quran memberi syafaat baginya

Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat. (HR. Muslim 1910).

Kedelapan, orang tuanya akan diberi mahkota cahaya kelak di akhirat

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani).

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu… ” kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya, dan kedua orang tuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Quran.” (HR. Thabrani dalam al-Ausath 6/51, dan dishahihkan al-Albani).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Read more https://konsultasisyariah.com/26373-pahala-orang-yang-menghafal-al-quran.html