Ustadz Abdurrahim menceritakan perjalanan beliau belajar
dan menghafal Al-Quran sejak anak-anak hingga hafal Al-Qur'an pada umur 13
tahun. Sekarang di usianya yang 17 tahun sudah menguasai 3 qiro'ah.
Yufid Documentary: Man Jadda Wajada - Kisah Inspiratif Penghafal Al-Qur'an
Anda pernah berangan-angan bisa menghafal Al-Qur'an?
Berbagai metode dan cara ditempuh agar Anda bisa hafal
Al-Qur'an.
Namun, tak kunjung ada hasilnya. Akhirnya Anda pun
menyerah dan menerima keadaan Anda.
Sepertinya Anda perlu menonton video motivasi dan
inspiratif dari seorang santri di salah satu pondok pesantren di Yogyarkarta
berikut.
Yuk tonton video Yufid Documentary: Man Jadda Wajada -
Kisah Inspiratif Penghafal Al-Qur'an.
Prioritaskan Menghafal Al Qur’an
Al Khotib Al Baghdadi berkata, “Selayaknya bagi setiap
penuntut ilmu memulai dari menghafalkan Al Qur’an. Karena Al Qur’an adalah ilmu
yang paling mulia dan yang paling pantas didahulukan.” (Al Jaami’ li
Akhlaaqir Rowi wa Li Aadabis Saami’)
Diceritakan bahwa Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Aku
menghafal Al Qur’an pada usia 7 tahun, aku mulai belajar shalat jama’ah pada
usia 8 tahun dan aku mulai menulis hadits pada usia 9 tahun.”
Ibnu Kholdun rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa
mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak merupakan bagian dari syi’ar agama Islam
dan yang dipraktekkan umat ini. Praktek ini pun tersebar di setiap negeri.
Pengaruhnya, hafalan quran bisa lebih mengokohkan iman. Setelah itu barulah
kuasai akidah dari ayat-ayat Qur’an, lalu kuasai sebagian matan hadits.”
Keutamaan menghafalkan Al Qur’an sebagaimana disebutkan
dalam hadits dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Dikatakan kepada orang yang membaca
(menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah
sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir
ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan
Tirmidzi no. 2914, shahih kata Syaikh Al Albani).
Ibnu Hajar Al Haitami rahimahullah berkata, “Hadits di
atas menunjukkan keutamaan khusus bagi yang menghafalkan Al Qur’an dengan
hatinya, bukan yang sekedar membaca lewat mushaf. Karena jika sekedar membaca
saja dari mushaf, tidak ada beda dengan yang lainnya baik sedikit atau banyak
yang dibaca. Keutamaan yang bertingkat-tingkat
adalah bagi yang menghafal Al Qur’an dengan hatinya. Dari hafalan ini,
bertingkat-tingkatlah kedudukan mereka di surga sesuai dengan banyaknya
hafalannya. Menghafal Al Qur’an seperti ini hukumnya fardhu kifayah. Jika
sekedar dibaca saja, tidak gugur kewajiban ini. Tidak ada yang lebih besar
keutamaannya dari menghafal Al Qur’an. Inilah yang dimaksudkan dalam hadits di
atas dan inilah makna tekstual yang bisa ditangkap. Malaikat akan mengatakan
pada yang menghafalkan Al Qur’an ‘bacalah dan naiklah’. Jadi yang dimaksud
sekali lagi adalah bagi yang menghafal Al Qur’an dari hatinya.” (Al Fatawa
Al Haditsiyah, 156)
Semoga Allah memudahkan kita menjadi penghafal-penghafal
Al Qur’an dan penjaga kitabullah.
Wallahu waliyyut taufiq.
Sumber: Dalil Al Hifzh Al Muyassar (Petunjuk Menghafal Al
Qur’an)
www.rumaysho.com
Hafalkan Meski Tidak Hafal-hafal - Poster Dakwah Yufid TV
Hafalkan Meski Tidak Hafal-hafal - Poster Dakwah Yufid TV
Poster Dakwah Yufid TV kali ini akan membahas tentang
hafalkan meski tidak hafal-hafal. Setiap muslim harus memiliki hafalan quran,
namun banyak dari kita yang sulit untuk bisa menghafal quran. Berikut motivasi
agar kita tetap istiqomah menghafal quran meskipun tidak hafal-hafal. Simak motivasinya dalam video poster dakwah
berikut ini…
Kisah Inspiratif Berjuang Menjaga Hafalan Al-Qur'an - Yufid Documentary
Sudah tahukan Anda bagaimana perjuangan para penghafal
Al-Qur'an dalam menjaga hafalannya?
Simak video kisah inspiratif dari seorang santri Pondok
Pesantren Ibnu Abbas Sragen Ahmad Zulkarnain Hambali dalam menjaga hafalan
Al-Qurannya.
Yuk tonton video Kisah Inspiratif Berjuang Menjaga
Hafalan Al-Qur'an - Yufid Documentary.
Serial Belajar Tahsin ( 1 - 4 ) - bersama Ustadz Ulin Nuha (VIDEO)
Berikut kami sajikan “ Serial Belajar Tahsin “ bersama Ustadz Moh. Ulin Nuha, S.Pd.I, M.S.I
(SERIAL 1 S/D 4)
Biografi Singkat Ustadz Moh. Ulin Nuha, S.Pd.I, M.S.I
-Pernah belajar di Universitas Islam Al-Madinah Al-Munawwarah
fakultas Al-Qur'an
-Alumnus STIQ An-Nur Yogyakarta
-Alumnus Pascasarjana UMY, konsentrasi Psikologi Islam
Pengasuh PP Harun Assyafi’i
Pesantren Harun Asy-Syafi’i saat ini diasuh oleh KH. Moh.
Ulin Nuha. Beliau dilahirkan di Kota Kudus, tanggal 19 September 1976. Di tanah
kelahirannya, beliau memulai dalam menuntut ilmu Al-Qur’an dan cabang ilmu
keagamaan lainnya.
Selanjutnya beliau pindah ke Wonosobo untuk lebih
memperdalam ilmu Al-Qur’annya. Pada tahun 1999, beliau mendapat panggilan beasiswa
untuk belajar di Kota Nabi, Madinah Saudi Arabia.
Untuk lebih menguatkan kemampuannya di bidang Al-Qur’an
beliau mengambil Fakultas Al-Qur’an.
Di Kota Madinah ini, beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan
untuk mengeruk ilmu dari para ulama di Masjid Nabawi. Beliau mendatangi Syaikh
Sayyid Lasyin yang merupakan pengajar Al-Qur’an Masjid Nabawi. Di bawah asuhan
Syaikh Sayyid Lasyin inilah beliau mendapatkan sanad Al-Qur’an
riwayat Hafsh
dan Syu’bah.
Pada tahun 2003 beliau pulang ke Indonesia dan selanjutnya
dipercaya untuk mengajar Al-Qur’an di PP. Taruna Al-Qur’an.
Ketika Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Harun Asy-Syafi’i
berdiri tahun 2009, beliau dipercaya untuk mengasuh pondok ini.
Sumber: http://yufid.tv
Membaca dengan Hafalan atau dengan Mushaf?
Mana yang lebih utama, membaca al-Quran dengan hafalan
ataukah dengan melihat mushaf?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma
ba’du,
Ada pendapat ulama dalam masalah ini,
Pertama, membaca al-Quran
dengan melihat mushaf, lebih utama dibandingkan dengan hafalan. Karena membaca
dengan mushaf berarti kita melihat al-Quran. Dan ini memiliki nilai tersendiri.
Mengingat umumnya orang membaca dengan melihat mushaf, hatinya bisa lebih konsentrasi
merenungkan apa yang dia baca. Ini merupakan mayoritas ulama.
Ketika seseorang sama sekali tidak melihat mushaf,
dikhawatirkan termasuk memboikot al-Quran. Allah berfirman,
Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku
menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. al-Furqon: 30)
Berdasarkan ayat ini, Imam Ibnul Jauzi menjelaskan,
Selayaknya bagi orang yang memiliki mushaf
untuk membacannya dengan melihat mushaf beberapa ayat setiap hari. Agar tidak
termasuk menjadikan al-Quran sesuatu yang diacuhkan.
(al-Adab as-Syar’iyah, Ibn Muflih, 2/300).
Kedua,
menimbang mana yang lebih bisa khusyu. Jika membaca melalui hafalan bisa lebih
khusyu dan lebih bisa merenungkan isi al-Quran maka hafalan lebih utama, dan
sebaliknya. Ini merupakan pendapat Ibnu Katsir, An-Nawawi dan beberapa ulama
lainnya.
Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,
Sebagian ulama mengatakan, inti dari masalah
ini adalah khusyu. Jika dia bisa lebih khusyu ketika membacanya melalui
hafalan, maka ini lebih afdhal. Namun jika dengan melihat mushaf bisa lebih
khusyu, maka itu lebih afdhal.
Jika sama khusyunya, maka membaca dengan melihat ke
mushaf lebih baik, karena lebih konsentrasi dan fokus dengan melihat ke arah
mushaf. Imam an-Nawawi mengatakan dalam at-Tibyan, ‘Yang benar, bahwa
keterangan para ulama dan praktek mereka, dipahami sesuai rincian ini.’
(Fadhail al-Quran, Ibnu Katsir, hlm. 136).
Allahu a’lam.
Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina
Konsultasisyariah.com)
Read more
https://konsultasisyariah.com/23658-membaca-dengan-hafalan-atau-dengan-mushaf.html

