Yufid Documentary: Man Jadda Wajada - Kisah Inspiratif Penghafal Al-Qur'an

Anda pernah berangan-angan bisa menghafal Al-Qur'an?
Berbagai metode dan cara ditempuh agar Anda bisa hafal Al-Qur'an.
Namun, tak kunjung ada hasilnya. Akhirnya Anda pun menyerah dan menerima keadaan Anda.

Sepertinya Anda perlu menonton video motivasi dan inspiratif dari seorang santri di salah satu pondok pesantren di Yogyarkarta berikut.


Yuk tonton video Yufid Documentary: Man Jadda Wajada - Kisah Inspiratif Penghafal Al-Qur'an.

Prioritaskan Menghafal Al Qur’an



Al Khotib Al Baghdadi berkata, “Selayaknya bagi setiap penuntut ilmu memulai dari menghafalkan Al Qur’an. Karena Al Qur’an adalah ilmu yang paling mulia dan yang paling pantas didahulukan.” (Al Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Li Aadabis Saami’)

Diceritakan bahwa Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Aku menghafal Al Qur’an pada usia 7 tahun, aku mulai belajar shalat jama’ah pada usia 8 tahun dan aku mulai menulis hadits pada usia 9 tahun.”

Ibnu Kholdun rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak merupakan bagian dari syi’ar agama Islam dan yang dipraktekkan umat ini. Praktek ini pun tersebar di setiap negeri. Pengaruhnya, hafalan quran bisa lebih mengokohkan iman. Setelah itu barulah kuasai akidah dari ayat-ayat Qur’an, lalu kuasai sebagian matan  hadits.”

Keutamaan menghafalkan Al Qur’an sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914, shahih kata Syaikh Al Albani).

Ibnu Hajar Al Haitami rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan keutamaan khusus bagi yang menghafalkan Al Qur’an dengan hatinya, bukan yang sekedar membaca lewat mushaf. Karena jika sekedar membaca saja dari mushaf, tidak ada beda dengan yang lainnya baik sedikit atau banyak yang dibaca. Keutamaan yang bertingkat-tingkat  adalah bagi yang menghafal Al Qur’an dengan hatinya. Dari hafalan ini, bertingkat-tingkatlah kedudukan mereka di surga sesuai dengan banyaknya hafalannya. Menghafal Al Qur’an seperti ini hukumnya fardhu kifayah. Jika sekedar dibaca saja, tidak gugur kewajiban ini. Tidak ada yang lebih besar keutamaannya dari menghafal Al Qur’an. Inilah yang dimaksudkan dalam hadits di atas dan inilah makna tekstual yang bisa ditangkap. Malaikat akan mengatakan pada yang menghafalkan Al Qur’an ‘bacalah dan naiklah’. Jadi yang dimaksud sekali lagi adalah bagi yang menghafal Al Qur’an dari hatinya.” (Al Fatawa Al Haditsiyah, 156)

Semoga Allah memudahkan kita menjadi penghafal-penghafal Al Qur’an dan penjaga kitabullah.

Wallahu waliyyut taufiq.

Sumber: Dalil Al Hifzh Al Muyassar (Petunjuk Menghafal Al Qur’an)

www.rumaysho.com


Hafalkan Meski Tidak Hafal-hafal - Poster Dakwah Yufid TV

Hafalkan Meski Tidak Hafal-hafal - Poster Dakwah Yufid TV


Poster Dakwah Yufid TV kali ini akan membahas tentang hafalkan meski tidak hafal-hafal. Setiap muslim harus memiliki hafalan quran, namun banyak dari kita yang sulit untuk bisa menghafal quran. Berikut motivasi agar kita tetap istiqomah menghafal quran meskipun tidak hafal-hafal.  Simak motivasinya dalam video poster dakwah berikut ini…

Kisah Inspiratif Berjuang Menjaga Hafalan Al-Qur'an - Yufid Documentary

Sudah tahukan Anda bagaimana perjuangan para penghafal Al-Qur'an dalam menjaga hafalannya?
Simak video kisah inspiratif dari seorang santri Pondok Pesantren Ibnu Abbas Sragen Ahmad Zulkarnain Hambali dalam menjaga hafalan Al-Qurannya.


Yuk tonton video Kisah Inspiratif Berjuang Menjaga Hafalan Al-Qur'an - Yufid Documentary.

Serial Belajar Tahsin ( 1 - 4 ) - bersama Ustadz Ulin Nuha (VIDEO)

Berikut kami sajikan “ Serial Belajar Tahsin “  bersama Ustadz Moh. Ulin Nuha, S.Pd.I, M.S.I (SERIAL 1 S/D 4)

Biografi Singkat  Ustadz Moh. Ulin Nuha, S.Pd.I, M.S.I

-Pernah belajar di Universitas Islam Al-Madinah Al-Munawwarah fakultas Al-Qur'an
-Alumnus STIQ An-Nur Yogyakarta
-Alumnus Pascasarjana UMY, konsentrasi Psikologi Islam

Pengasuh PP Harun Assyafi’i
Pesantren Harun Asy-Syafi’i saat ini diasuh oleh KH. Moh. Ulin Nuha. Beliau dilahirkan di Kota Kudus, tanggal 19 September 1976. Di tanah kelahirannya, beliau memulai dalam menuntut ilmu Al-Qur’an dan cabang ilmu keagamaan lainnya.

Selanjutnya beliau pindah ke Wonosobo untuk lebih memperdalam ilmu Al-Qur’annya. Pada tahun 1999, beliau mendapat panggilan beasiswa untuk belajar di Kota Nabi, Madinah Saudi Arabia.

Untuk lebih menguatkan kemampuannya di bidang Al-Qur’an beliau mengambil Fakultas Al-Qur’an.
Di Kota Madinah ini, beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengeruk ilmu dari para ulama di Masjid Nabawi. Beliau mendatangi Syaikh Sayyid Lasyin yang merupakan pengajar Al-Qur’an Masjid Nabawi. Di bawah asuhan Syaikh Sayyid Lasyin inilah beliau mendapatkan sanad Al-Qur’an 
riwayat Hafsh dan Syu’bah.

Pada tahun 2003 beliau pulang ke Indonesia dan selanjutnya dipercaya untuk mengajar Al-Qur’an di PP. Taruna Al-Qur’an.


Ketika Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Harun Asy-Syafi’i berdiri tahun 2009, beliau dipercaya untuk mengasuh pondok ini.

















Sumber: http://yufid.tv



Membaca dengan Hafalan atau dengan Mushaf?



Mana yang lebih utama, membaca al-Quran dengan hafalan ataukah dengan melihat mushaf?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada pendapat ulama dalam masalah ini,

Pertama, membaca al-Quran dengan melihat mushaf, lebih utama dibandingkan dengan hafalan. Karena membaca dengan mushaf berarti kita melihat al-Quran. Dan ini memiliki nilai tersendiri. Mengingat umumnya orang membaca dengan melihat mushaf, hatinya bisa lebih konsentrasi merenungkan apa yang dia baca. Ini merupakan mayoritas ulama.

Ketika seseorang sama sekali tidak melihat mushaf, dikhawatirkan termasuk memboikot al-Quran. Allah berfirman,

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. al-Furqon: 30)

Berdasarkan ayat ini, Imam Ibnul Jauzi menjelaskan,

Selayaknya bagi orang yang memiliki mushaf untuk membacannya dengan melihat mushaf beberapa ayat setiap hari. Agar tidak termasuk menjadikan al-Quran sesuatu yang diacuhkan. (al-Adab as-Syar’iyah, Ibn Muflih, 2/300).

Kedua, menimbang mana yang lebih bisa khusyu. Jika membaca melalui hafalan bisa lebih khusyu dan lebih bisa merenungkan isi al-Quran maka hafalan lebih utama, dan sebaliknya. Ini merupakan pendapat Ibnu Katsir, An-Nawawi dan beberapa ulama lainnya.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,

Sebagian ulama mengatakan, inti dari masalah ini adalah khusyu. Jika dia bisa lebih khusyu ketika membacanya melalui hafalan, maka ini lebih afdhal. Namun jika dengan melihat mushaf bisa lebih khusyu, maka itu lebih afdhal.

Jika sama khusyunya, maka membaca dengan melihat ke mushaf lebih baik, karena lebih konsentrasi dan fokus dengan melihat ke arah mushaf. Imam an-Nawawi mengatakan dalam at-Tibyan, ‘Yang benar, bahwa keterangan para ulama dan praktek mereka, dipahami sesuai rincian ini.’ (Fadhail al-Quran, Ibnu Katsir, hlm. 136).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/23658-membaca-dengan-hafalan-atau-dengan-mushaf.html